Penggunaan kresek transparan untuk membungkus pesanan take away kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Seorang pelaku usaha kuliner di Jakarta mengaku mendapat ancaman rating buruk dari pelanggan yang menolak plastik bening, meski kemasan itu sudah lazim dipakai restoran dan warung online.
Meidina Margaretha, pemilik Nasi Kulit Mak Judes, membagikan pengalaman tersebut lewat akun Threads-nya. Ia menyebut pesanan yang sama datang berulang, lengkap dengan catatan yang menuntut plastik tidak tembus pandang. Jika tetap memakai kresek bening, pelanggan mengancam memberi bintang satu di aplikasi ojek online.
Catatan pesanan yang sama muncul berkali-kali
Menurut pengakuan Meidina yang dikonfirmasi media, ia sudah menerima setidaknya empat kali order dengan catatan serupa. Isinya tegas: plastik jangan transparan, atau rating akan dijatuhkan. Saat pihak usaha menjelaskan bahwa stok yang tersedia memang kresek bening, pesan itu tak direspons.
Menu yang dipesan pelanggan tersebut adalah Nasi Kulit Tok dengan topping serundeng. Harganya sekitar Rp 12.000, porsi yang relatif terjangkau dan cukup mengenyangkan bagi pembeli harian lewat aplikasi antar makanan.
Usaha online tujuh tahun, baru kali ini soal plastik
Nasi Kulit Mak Judes memiliki beberapa titik gerai di Jakarta dan banyak mengandalkan saluran food delivery. Meidina menuturkan dirinya sudah berkecimpung di usaha makanan daring sekitar tujuh tahun. Persoalan penolakan terhadap plastik bening baru muncul belakangan ini, sehingga membuatnya heran sekaligus kesal.
Plastik bening memang sering dipilih pelaku usaha karena penampilannya bersih, isinya bisa dilihat dari luar, serta banyak yang beredar dengan ketebalan memadai dan klaim food grade. Bagi penjual, kemasan itu juga memudahkan pengecekan pesanan sebelum diserahkan ke kurir.
Warganet ramai membela pilihan kemasan bening
Unggahan Meidina cepat menyebar dan memicu perdebatan. Sebagian besar komentar justru mendukung pemilik usaha. Banyak yang menilai permintaan pelanggan tidak masuk akal, apalagi jika dihubungkan dengan isu keamanan pangan.
Beberapa netizen menegaskan bahwa kresek food grade untuk take away biasanya justru berwarna bening, relatif lebih mahal, tahan panas, dan tidak mudah sobek. Ada pula yang menyebut plastik berwarna gelap sering diasosiasikan dengan bahan daur ulang yang mutunya diragukan untuk kontak langsung dengan makanan hangat.
- Pesanan berulang dengan catatan menolak plastik transparan
- Ancaman bintang satu lewat aplikasi ojol
- Menu andalan seharga sekitar Rp 12.000
- Dukungan warganet terhadap kemasan food grade bening
Pelajaran untuk penjual dan pembeli di kanal ojol
Kisah ini menyingkap gesekan kecil yang bisa berdampak besar pada reputasi warung di platform digital. Rating rendah, meski dipicu hal non-rasa seperti warna kresek, tetap memengaruhi tampilan toko dan kepercayaan pembeli lain. Di sisi lain, pelanggan juga perlu menyampaikan preferensi kemasan dengan cara yang proporsional, tanpa menekan penjual lewat ancaman ulasan.
Bagi pelaku usaha rumahan maupun merek lokal di Jakarta, standar kemasan layak pangan sebaiknya tetap jadi prioritas. Komunikasi singkat di kolom catatan pesanan atau balasan chat bisa meredam kesalahpahaman, asalkan kedua belah pihak saling terbuka. Transparansi—baik soal isi menu maupun jenis plastik—tetap lebih sehat daripada tekanan sepihak.
Sementara perbincangan di Threads mereda, pengalaman Nasi Kulit Mak Judes menjadi pengingat bahwa detail bungkus makanan bisa sama sensitifnya dengan cita rasa. Yang penting, standar kebersihan dan keamanan pangan tidak dikorbankan hanya demi warna kresek tertentu.
Sumber: Detik Food.
