MASAK
Indeks
Menu Keluarga

Anak Muda Ramai Jadikan Gym Tempat Pulih dan Jalin Teman Baru

Fenomena gym Gen Z semakin kentara di kota-kota besar. Pusat kebugaran tak lagi hanya diisi jadwal angkat beban atau lari di treadmill; banyak anak muda menempatkannya sebagai ruang pulih, tempat bertemu orang baru, dan bagian tetap dari kehidupan sehari-hari. Pergeseran ini membuat olahraga terasa lebih dekat dengan kebutuhan sosial dan mental, bukan sekadar target penampilan.

Setelah masa pandemi, konten latihan di media sosial tumbuh pesat. Citra gym berubah dari ruang keringat yang individual menjadi tempat berkumpul yang terasa aman dan lebih sehat dibanding kebiasaan keluar malam yang melelahkan. Bagi sebagian generasi muda, datang ke gym sama pentingnya dengan menjaga koneksi sosial.

Dari Latihan Fisik ke Kebutuhan Bergaul

Rutinitas fitness perlahan menyatu dengan cara anak muda membangun relasi. Kreator digital berusia 28 tahun yang dikenal sebagai Syd Grows menuturkan bahwa gym menjadi lokasi utama baginya untuk bertemu orang dan menjalin pertemanan lewat sesi latihan bersama. Ia melihat pusat kebugaran sebagai alternatif kehidupan sosial yang tetap mendukung gaya hidup aktif.

Data keanggotaan memperkuat gambaran itu. Pure Gym mencatat 47 persen anggota baru pada Januari berusia 25 tahun ke bawah. The Gym Group menyebut sekitar 40 persen anggotanya—atau sekitar 360 ribu orang—berasal dari Gen Z, dan 51 persen di antaranya mengaku mendapatkan teman baru di gym. Angka tersebut menunjukkan fungsi sosial tempat latihan yang kian kuat.

Gym Mempengaruhi Pilihan Tempat Tinggal

Bagi banyak Gen Z, kedekatan dengan fasilitas olahraga ikut menentukan keputusan hunian. CEO The Gym Group, Will Orr, sebagaimana dilansir Health Club Management, menyebut 72 persen Gen Z merasa keberadaan gym memengaruhi pemilihan tempat tinggal. Di London, proporsinya bahkan mencapai 82 persen.

Pada kelompok usia 16–29 tahun, 31 persen mengutamakan pusat kebugaran dan fasilitas olahraga saat memilih lokasi tinggal. Angka itu jauh di atas restoran, bar, dan kafe yang hanya dipilih 14 persen responden. Dengan kata lain, akses latihan harian dinilai lebih strategis daripada destinasi kuliner semata, karena membantu menjaga konsistensi kebiasaan bergerak.

Biaya, Akses, dan Prioritas Pengeluaran

Kemudahan jangkauan menjadi penentu kebiasaan. Gym yang dekat rumah, bisa ditempuh jalan kaki, atau berada di jalur perjalanan kerja membuat latihan lebih mudah dipertahankan. Di sisi lain, tekanan finansial tetap nyata. Laporan Fitness Pulse dari The Gym Group mencatat 43 persen responden Gen Z menempatkan biaya sebagai salah satu dari tiga faktor utama saat memilih pusat kebugaran.

Meski hemat menjadi pertimbangan, kesehatan tidak serta-merta digeser. Sebanyak 55 persen responden memasukkan kesehatan dan kebugaran ke dalam dua prioritas utama pengeluaran diskresioner, naik dari 44 persen pada 2025. Bahkan 42 persen menjadikannya prioritas pengeluaran diskresioner terbesar. Pola ini menandakan Gen Z tetap mengalokasikan dana untuk tubuh dan pikiran, sambil tetap membandingkan harga keanggotaan.

  • Akses lokasi yang dekat dengan rumah atau rute harian
  • Biaya keanggotaan yang masuk akal bagi kantong anak muda
  • Manfaat mental dan rasa terhubung dengan komunitas latihan

Olahraga sebagai Penopang Kesehatan Mental

Alasan masuk gym juga bergeser. Sekitar 39 persen responden menyatakan olahraga teratur membantu meningkatkan kesejahteraan mental. Kesempatan merasa terhubung dengan orang lain disebut menopang rasa utuh secara keseluruhan, terutama saat motivasi sedang turun.

Pelatih utama The Gym Group, Jenni Tardiff, menilai Gen Z tidak lagi berolahraga semata demi penampilan. Fokus mereka bergerak ke pengelolaan stres, rasa tenang, dan rutinitas yang bisa dijalani jangka panjang. Pilihan aktivitasya beragam: lari, angkat beban, kelas hot yoga, hingga sesi pemulihan. Kombinasi itu mencerminkan perhatian pada tubuh sekaligus pemulihan pikiran.

Di tengah padatnya kerja dan paparan media sosial, gym menawarkan struktur harian yang jelas—jadwal latihan, progres terukur, dan komunitas yang hadir tanpa harus bergantung pada keramaian malam. Bagi sebagian anak muda, itulah bentuk healing yang terasa konkret dan bisa diulang setiap pekan.

Pada akhirnya, naiknya minat pada pusat kebugaran menandai perubahan cara Gen Z merawat diri. Mereka mencari ruang yang menyatukan gerak tubuh, ketenangan mental, dan relasi sosial dalam satu kebiasaan. Selama akses dan biaya tetap terjangkau, gym berpotensi terus menjadi bagian penting dari gaya hidup generasi ini, termasuk bagi mereka yang ingin membangun ritme sehat di lingkungan urban Indonesia.

Sumber: Liputan6.

Tag: gym gen z, ruang healing, pusat kebugaran, olahraga anak muda, kesehatan mental, gaya hidup sehat, komunitas gym, kebugaran