Kunjungan resmi Putri Mahkota Kerajaan Swedia, Victoria, ke Pulau Lombok membuka ruang bagi kuliner Lombok untuk tampil di meja jamuan kenegaraan. Pada 5 September 2026, di sela agenda di Nusa Tenggara Barat, ia menyantap sejumlah hidangan daerah yang disiapkan secara khusus. Bagi pembaca Sobat Masak, momen ini menarik karena menampilkan cara penyajian masakan rumah tangga Sasak dalam format resmi tanpa kehilangan karakter pedas dan aromatiknya.
Restoran Dapoer Sasak di Jalan Udayana, Kota Mataram, menjadi lokasi makan siang bersama rombongan. Meja-meja ditata rapi menyambut tamu kehormatan, sementara menu disusun menonjolkan bahan lokal yang akrab di dapur keluarga NTB. Suasana santai tetap terjaga meski protokol kunjungan berjalan ketat.
Urap pembuka yang merangkum rasa sayur Lombok
Jamuan dimulai dengan urap. Campuran kacang panjang, kubis, taoge, dan kacang tanah dilumuri kelapa parut berbumbu sehingga teksturnya renyah sekaligus gurih. Hidangan ini sering muncul di menu keluarga Lombok karena bahannya murah dan mudah diganti sesuai musim panen. Penyajiannya di Dapoer Sasak menegaskan bahwa makanan sederhana tetap layak diangkat ke tingkat jamuan formal.
Urap juga memberi jeda sebelum rasa pedas masuk ke lidah. Kelapa parut membantu menyeimbangkan bumbu rempah yang nanti hadir di lauk utama. Banyak juru masak rumah memakai pola serupa: sayur berbumbu dulu, baru daging atau ayam bakar.
Sate Rembiga dan Ayam Taliwang sebagai lauk utama
Sate Rembiga hadir sebagai salah satu hidangan inti. Daging sapi dimarinasi bumbu khas setempat lalu ditusuk dan dibakar hingga harum. Marinasi inilah yang membedakannya dari sate di daerah lain: aroma bumbu meresap dalam tanpa menutupi rasa daging. Bagi yang ingin mencoba di rumah, kunci utamanya ada pada waktu perendaman dan panas bara yang stabil.
Ayam Taliwang ikut disajikan. Ayam bakar dilumuri cabai, bawang merah, dan terasi hingga warnanya merah mengkilap dan rasanya pedas gurih. Kuliner ikonik Lombok ini sudah lama menjadi andalan jamuan tamu karena mudah diskalakan untuk banyak porsi. Di meja Putri Victoria, keduanya memperlihatkan sisi tegas masakan Sasak yang tetap ramah dicicipi tamu mancanegara.
- Urap sayur dengan kelapa parut berbumbu
- Sate Rembiga dari daging sapi marinasi
- Ayam Taliwang bakar berbalut cabai dan terasi
Minuman serai dan pujian singkat dari tamu kehormatan
Selain makan di Dapoer Sasak, Putri Victoria juga menyinggahi Bale Kita. Di sana minuman rempah berbasis serai khas NTB menarik perhatiannya. Ia memuji rasa minuman itu dengan kalimat singkat dalam bahasa Inggris bahwa serai terasa sangat enak. Pujian sederhana itu menegaskan potensi minuman tradisional sebagai pelengkap menu yang mudah ditiru di dapur rumah.
Serai mudah didapat di pasar lokal dan tidak membutuhkan teknik rumit. Direbus dengan sedikit pemanis alami atau jahe, minuman ini cocok menyertai hidangan pedas seperti Ayam Taliwang. Banyak keluarga di Mataram sudah terbiasa menyuguhkannya saat ada tamu.
Jejak kuliner di desa adat dan Gili Meno
Rombongan kemudian menuju Desa Adat Karang Bajo Bayan di Lombok Utara. Di lingkungan desa yang asri, mereka disuguhi minuman tradisional, aneka buah, serta kudapan ringan. Suasana berbeda dari restoran kota: penyajian lebih dekat dengan ritme hidup warga, tanpa menghilangkan kehangatan jamuan.
Di Gili Meno, Putri Victoria ikut menanam terumbu karang. Kegiatan itu ia lihat sebagai peluang ekonomi baru bagi NTB, termasuk sektor wisata yang kerap bersinggungan dengan kuliner pantai. Meski fokus utamanya konservasi, kunjungan ke gili tetap memperkuat narasi bahwa kekayaan laut dan dapur daerah saling menopang daya tarik Lombok.
Bagi pembaca yang ingin mengangkat menu serupa di rumah, kombinasi urap, sate berbumbu, dan ayam bakar pedas bisa disusun sebagai menu keluarga akhir pekan. Sesuaikan tingkat kepedasan, siapkan minuman serai dingin, dan gunakan bahan segar dari pasar terdekat agar aroma tetap dekat dengan yang disajikan di Mataram.
Kunjungan singkat Putri Mahkota Victoria memperlihatkan bahwa kuliner Lombok mampu berbicara di panggung internasional lewat cita rasa yang jujur. Dari meja Dapoer Sasak hingga desa adat, setiap hidangan mengingatkan bahwa resep turun-temurun tetap relevan bila disajikan dengan rapi dan penuh hormat pada bahan lokal.
Sumber: Detik Food.
